SKRIPSI DALAM BINGKAI WAKTU DAN MAKNA



SKRIPSI DALAM BINGKAI WAKTU DAN MAKNA

Halo pembaca yang arif…

Apa kabar semua? Semoga kalian dalam keadaan yang sehat ya..

Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis artikel dengan tema mengenai Skripsi. Maka, sasaran pembacanya dikhususkan bagi mahasiswa yang baru atau tengah berkutat dengan penyelesaian tugas akhir yang satu ini. Namun khalayak umum pun boleh membacanya.

Tulisan saya akan mengarah kepada penjelasan cara pandang bagaimana memaknai skripsi di luar konteks labeling skripsi yang berkembang dalam pikiran mahasiswa kekinian. Argumentasi saya, skripsi tidak hanya sekedar tugas akhir yang menuju finalitas perjalanan intelektual mahasiswa, namun menuntun pada perjalanan intelektual yang tak pernah usai.



Sebuah Problem 

Bagi mahasiswa calon S1 dimanapun setelah 3,5 tahun kuliah pasti akan dihadapkan pada tugas akhir yang dinamakan skripsi. Skripsi ini dibutuhkan sebagai pertanda/penegasan atas kemampuan intelektual mahasiswa saat ia menempuh proses pembelajaran di kelas sesuai dengan bidang yang diambil. Begitupun saya, saat ini pun saya sedang menempuh pendidikan s1 jurusan Sosiologi di UNJ dan tengah berhadapan dengan penyusunan skripsi di semester ini.

Tentu mendengar kata ‘Skripsi’ sudah cukup membuat bayangan tentang sesuatu yang sangat sulit, mengumpulkan data, akan berhadapan dengan Dosen Pembimbing dengan beragam karakter, akan menyusun satu ide dalam sebuah penelitian dengan segala konsekuensinya, ketidakmampuan mengimbangi adu argumentasi saat sidang. Berat?? Memang!

Berat secara teknis&tesktual tidak berarti selalu berat juga secara kontekstual. Tentu, pandangan diatas mengindikasikan bahwa Skripsi merupakan Tugas Akhir yang berat. Rata-rata orang akan mengalami “kegalauan” yang bisa terwujud dalam berbagai macam bentuk saat sedang mengerjakan skripsi. Hingga pada akhirnya tidak jarang skripsinya menjadi tertunda bahkan yang lebih berlebihan tidak terselesaikan. Tentu bukan ini yang diharapkan, justru hal tersebut mengesankan bahwa Skripsi adalah sesuatu yang–meminjam istilah Marx- Meng-Alienasi-kan kita dari diri kita sendiri. 

Beban moriil dan mengadu kecepatan dengan pandangan pragmatis secara ekonomis, semisal orientasi pekerjaan dan pengejaran gelar, menyebabkan dua efek kepada kita sebagai mahasiswa tingkat akhir. Yakni, menjadi terlalu terburu-buru atau justru semakin malas untuk menyelesaikan. Dalam tahap ini, sebetulnya kita sedang berhadapan dengan persoalan pemanfaatan dengan waktu. Tidak sekedar berpacu dengannya.

Denting Waktu Tidak Pernah Menunggu

Ya! Tentu tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, kalian pasti sudah sangat sadar tentang hal ini kan? Memang terkesan kejam dan terburu-buru. Namun pada dasarnya waktu adalah ruang bagi kesempatan. Maksudnya, ruang ini disediakan bagi kita untuk mengerjakan sesuatu yang sebaik-baiknya bagi diri kita. Untuk itu maka diperlukan adanya manajemen waktu agar supaya waktu tidak seperti air yang luber, tidak terbuang begitu saja. 



Ada sebuah kutipan dari Benjamin Franklin, “Lost time is never found again” yang bisa menggambarkan penjelasan diatas. Maka, manajemen waktu menjadi suatu hal terpenting dalam upaya kita menyusun skripsi. Bukan bermaksud untuk mengerjakan secara begitu cepat dalam arti terburu-buru, bukan itu. Namun, menggunakan waktu untuk sebaik-baiknya kita dalam proses pengerjaannya. 

Sebagai contoh, Bisa saja mengerjakan suatu Bab memakan waktu lama, namun konsep “lama” yang dimaksud merujuk pada suatu totalitas kita dalam pengerjaannya. Entah itu menguji validitas data, menyusun logika argumen yang layak&debatable, dsb. Bukan “lama” karena ditunda-tunda dan berleha-leha. Tentu itu bukan pemborosan waktu namun semata-mata agar supaya Skripsi kita bisa menjadi lebih bermakna. 



Menuju Skripsi yang Bermakna

Nah, pertanyaannya, bagaimana kita memaknai skripsi ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan pertanyaan reflektif kepada diri kita, kalau diri kita sendiri terjebak pada jawaban yang pragmatis, seperti, ”yaudahlah ya, toh nanti yang diincer kan Gelar dan Ijazah aja. Buat cari kerja. Yang penting pengalaman Kerja buat di CV. Skripsi Cuma untuk formalitas aja”. Astaga! Bagi saya kalau kita berfikiran seperti itu maka jangan harap Skripsimu akan bermakna.

Padahal, Skripsi adalah suatu bingkai peristiwa dalam sejarah perjalanan intelektual kita yang tidak berujung dan selesai. Jangan dikira Skripsimu tidak akan berguna di kemudian hari. Skripsi yang dibuat dan dimaknai secara baik, pasti tidak monoton, sekedar ‘promosi’. Tetapi akan memuat suatu ide baru yang akan berguna, minimal dalam perdebatan akademis dalam fokus kajian yang sedang kamu ambil. Bisa jadi dalam perdebatan kajian itu, kamu bisa memberikan suatu cara pandang baru, penjelasan baru, bahkan inovasi baru. itu baru secara teoritis.

Secara praktis, Bisa menjadi acuan&rujukan bagi adik-adik kelasmu yang belum pada tahap mengerjakan Skripsi. Bisa saja skripsimu diterbitkan menjadi buku. Beberapa dosen saya, tulisan Skripsi S1-nya dijadikan buku. (Mudah-mudahan saja saya juga bisa berkesempatan menerbitkan buku dari hasil penelitian saya, bila Tuhan menghendaki, Amien). Selain itu, bisa saja Skripsi mu berguna untuk membantu menyelesaikan suatu permasalahan di lingkungan mu. Dan tentu, masih banyak lagi yang bisa digali dari sebuah Skripsi.


Namun, lagi-lagi, kebermanfaatan skripsi kita tergantung kualitas manajemen waktu dan cara kita memaknainya. Semakin kamu bersikap optimis bisa mengerjakan SEBAIK-BAIKNYA bukan SECEPAT-CEPATNYA, maka hasilnya pun akan berkualitas. 

Semakin kamu memanfaatkan&meluangkan waktu untuk mengerjakan skripsimu, maka itu bisa jadi indikasi terbaik bahwa kamu bersungguh-sungguh. Yuk, kita luangkan waktu untuk Skripsi kita, membuat karya terbaik kita. Jangan MENUNDA-NUNDA ya. Akhir kata, saya mau beri satu kutipan,

“if you don’t have a time to do it right, when will you have time to do it over?”

-John Wooden-


Semoga bermanfaat…


Komentar

  1. keren...
    jadi terharu bacanya.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Ndri..
      Trims ya sebelumnya udah baca tulisan sederhana gue.
      As always, tulisan ini juga selalu jadi reminder untuk diri gue sendiri kok, hehe :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer